Minggu, 05 Desember 2010

Elegi Sunyi

bersua kembali denganmu adalah suatu anugrah
api cinta yang tak pernah pudar meriapkan nuansa indah
saat kau sematkan mawar itu lima belas tahun yang lalu
seakan baru kemarin terjadi
hangat genggaman di malam biru yang kita lewati bersama
saat kau dendangkan 'terlalu manis'
dengan denting dawai gitarmu
yang hanya untukku
sementara api unggun yang masih menyala didepan kita
meretih
membingkai kenangan yang terukir indah
saat kau telusuri jejak langkahku yang terjauh darimu
menambat rasa baru dalam kalbu yang tersentuh haru
rasa apa ini?
yang begitu berbeda
asing
tapi menyenangkan
dan saat kita berdekat dibawah tenda
di malam pekat yang terbungkus kabut
meneteskan rinai hujan gerimis
kau masih setia dengan gitarmu
yang merdu ditelingaku
dan saat kau datang padaku dengan seikat bunga
mawar merah jambu di siang itu
dengan senyum menawan kau ulurkan bunga itu
dengan tatap mata yang hanya tertuju padaku
tak peduli ada orang lain disitu
kuterima mawar itu dengan perasaan antara malu, jengah, dan bangga...
karna kau membuatku menjadi seorang yang istimewa
dan kubertanya "ini untukku?"
ah, seandainya aku tahu apa yang kau pikirkan waktu itu
kupandangi mawar itu
bunga pertama yang terindah
yang pernah kuterima
perlahan ada rasa hangat yang menyebar dalam sukma
inikah cinta?
datang tanpa diduga
kau raih aku dalam semua mimpimu
kau ajak aku berkelana dalam semua anganmu
kau jadikan aku satu satunya dalam hatimu, nafasmu, jiwamu...
cintamu milikku
hanya aku
love at the first sight adalah roman kita
kisah indah terbalur kata cinta yang kau bisikkan dengan mesra
dan saat kau datang kembali
membawa sebentuk bunga indah
yang coba kau hadirkan kembali
mawar merah jambu itu dalam bentuk yang berbeda
jujur saja
de ja vu itu tersingkap ke permukaan
perasaan ingin dekat denganmu
menyentuhmu
meski hanya sesaat
dan khayal itu menjadi nyata di bibirku...
terasa begitu nyeri saat rindu menerjang dada
disaat senja menjelang
disaat kusadari aku sendiri
tapi kuyakin cintamu, hatimu, jiwamu, bahkan nafasmu masih untukku
karna aku pun juga begitu
oh pujaanku, yang tlah berani membawa nafasku pergi
kembalilah padaku
temani jasad ini
berikanku oase kehidupan
karna tanpanya, aku akan mati...
dari relung hati kukatakan padamu
tak pernah ada yang lain
tak akan
karna aku hanya ingin kau
itu saja



delta city, 2010
300995,161110,HNA MCMVC - MMX

Romansa Purnama

kilau purnama yang membayang di air laut
seperti kilau mata yang hanya untukmu
saat kita hanya berdua
melewatkan waktu
ditemani debur ombak dan angin yang bertiup pelan...
terbingkai titik embun cinta kasih kita
tautan jemari dan bauran nafas...
hantarkan hangat bara cinta
yang tak pernah sirna...



delta city, 2010
HNA MCMVC - MMX

Sweet November

tiada detik berlalu tanpa bayanganmu,
tiada kata terucap tanpa menyebutmu,
tiada detak jantung tanpa otak ini memikirkanmu...


delta city, 2010
HNA MCMVC - MMX

November Enam Belas

satu dari sekian banyak memori yang tlah terlewati
disepanjang usiaku, hingga hari itu
mendadak bayu membawamu kembali
padaku
kau kemana saja?
berapa puluh purnama kumenantimu
hingga nyaris sekarat
karna kau tlah membawa pergi separuh nafasku
dan saat pertama kita sua lagi
keping hati dan jiwaku terasa lengkap
nafasku tlah kembali
mencintaimu semudah aku merasakan detak jantungku
dekat
biarkan kudekap erat sosokmu
ada satu yang kupinta darimu
jangan pergi lagi



delta city, 2010
HNA MCMVC - MMX

Apa kabar melatiku hari ini?

itu sapamu yang hanya untukku
awal mula terasa asing
tapi tak letih kaujadikan sapa saat bersua
hingga kujadi terbiasa

saat suaramu membelai sukma
saat tatap mata, yang deminya kurela menantang bahaya
masih tetap seperti dulu
seperti yang kumau

apa jadinya jumpa kita ini
yang hanya mengikuti takdir
haruskah kita bertanya pada waktu
atau masa lalu?

kita punya masa kini dan masa depan
tapi
ternyata kenangan itu masih ada
mengendap dalam dada
yang terlalu manis untuk dikenangkan
terlalu indah untuk diungkapkan
saat mawar merah jambu itu kau berikan
padaku
dengan tatap mata memuja dan senyum menawan
takkan kulupa hari itu
saat kaujadikan aku
pertama dan terakhir
bagimu
Apa kabar melatiku hari ini?



delta city, 2010
HNA MCMVC - MMX

Selasa, 16 November 2010

"Aku Cuma Seorang Phung"

: Nguyen Phung They Ley

Aku cuma seorang "phung"
lenguh mu pada sebuah senja, lenguh yang bukan keluh
tak dengan nada seolah langit hampir runtuh
dan kau menepati janjimu menemuiku di kafe itu
menyambut dengan secangkir teh hijau, dan helai mie seputih pias wajahmu

Aku cuma seorang "phung"
yang melanglang dari distrik ke distrik, kampung ke kampung
menjajakan sisa tubuh yang cuma separuh
sampai tandas semua peluh

Tapi apa arti seorang perempuan Viet tanpa "phung"
tanah tempat kembali
kampung tempat meriung
dan bunda yang tak lelah menawarkan pelukan
begitu benak rusuh
resah
(dan benakku melanglang pada rumah-rumah beratap jerami itu, dan lapangan rumput kering dengan selusin lubang sisa bom yang tak pernah ditimbun, dan serpih logam karatan yang menancapi akar-akar pohon tamarin)

Aku cuma seorang "phung"
ujarnya sembari mengoles gincu merah jambu
pada bibir setipis katun yang membalut erat pinggang kurusnya
meriak seperti buih tepi sungai mekhong
begitu kata-katanya meluncur
setergesa racau orang mabuk
dikejar uap napalm yang membakar rongga mulutnya


aku tak sanggup menandaskan teguk teh terakhir
di cangkir marun yang mulai pudar
ketika ia mulai bicara bunda kinasihnya
yang memberinya nama tepat di semburan napalm pertama
yang menghanguskan "phung" nya
ketika hari beranjak senja
"Paman Ngoc menyambarku keluar, tak sanggup menahan bundaku terbakar"
Api tak pernah mengetuk pintu dan mengajak bicara
api menawariku duka

senja turun,
dan kubiarkan Phung pergi melintasi sungai itu
jembatan kayu berderak
dan sampai ia hilang di tikungan
wajah sungai tak menghadirkan riak...

mungkin aku pun seorang "phung"

(Ho Chi Minh City, Oct 2010)

Sabtu, 30 Oktober 2010

apa kabarmu?

terakhir kita berjumpa, kau masih dirimu
wajah rupawan dan rambut ikal sebahu yang menawan
ikat rambut pemberianku masih melekat dipergelangan tanganmu
dan saat kita sua lagi ditempat ini
kau masih tetap sama seperti dalam pikiranku
apa kabarmu?
mana anak-anakmu
pasti mereka menawan sepertimu
dengan wajah eksotis dan sorot mata magis
ruang dan waktu makin terasa
menjulang diantara kita
terpisah
tak mungkin kisah itu terulang
hanya ingatan, yang terpatri dalam memori
manis dan sunyi
sosokmu masih tersimpan disudut relungku
menempati singgasana yang memang khusus untukmu
meski itu hanya bayangmu
takkan pudar oleh waktu


delta city, 2010

mitos pacaran?? putus??!!

Kebun Raya Purwodadi, Pandaan, Jawa timur
Hari itu hari minggu. Matahari masih belum terik. Tapi suasana di pelataran parkir Kebun Raya Purwodadi tampak mulai ramai. Deretan mobil pribadi yang berjajar dengan rombongan bis tampak memenuhi area parkir. Tak kurang puluhan sepeda motor pun ikut berbaris. Ada apa?

Oh ternyata memang sudah semacam 'ritual' bagi mereka yang hobi outbond atau sekedar ingin piknik bersama keluarga. Sebagai tempat cagar alam, Kebun Raya Purwodadi merupakan salah satu tempat favorit untuk refreshing. Dengan suasana sejuk dan rindang dibawah rerimbunan pepohonan, memang paling asik buat bercengkerama.

Sering pula, puluhan siswa siswi datang untuk melakukan studi tur. Mencatat berbagai nama latin tanaman yang unik dan langka, mengumpulkan data dan foto untuk makalah sebagai tugas sekolah. Kalau ingin data valid tentang jumlah tanaman yang ada, nggak usah repot-repot menghitung sendiri. Bisa-bisa seminggu belum selesai! Langsung saja bertanya di pusat data, yang terletak dibagian depan pintu masuk untuk pengunjung.

Ada mitos menarik tentang Kebun Raya Purwodadi. Jika ada cowok dan cewek yang sebelumnya enggak saling kenal, lantas mereka bertemu disitu, bisa jadi mereka berjodoh dan hubungan mereka akan langgeng. Tapii...jika ada sepasang cowok dan cewek yang punya hubungan khusus alias pacaran, dan kemudian mereka jalan-jalan ke situ, bisa dipastikan hubungan mereka bakal kandas!!

Tidak ada data atau penelitian yang pasti tentang mitos ini. Meski begitu, toh banyak juga Anak Baru Gede yang pacaran. Cuek sama mitos??


Wisata Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah
Kawasan wisata Baturaden amat memesona. Terletak didataran tinggi dan sejuknya udara pegunungan, membuat siapapun betah berlama-lama, meski hanya sekedar duduk dan menikmati pemandangan. Seperti kawasan wisata umumnya, tempat ini pun selalu ramai diakhir pekan. Banyaknya toko souvenir yang menjual cinderamata khas daerah setempat menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Banyak juga warung dan depot makanan. Meski kebanyakan menunya sederhana, tapi siapa yang akan peduli jika makan terasa nikmat? Di kawasan ini ada juga bangunberan semacam rumah, yang menyediakan tempat bagi pengunjugantung itu1ng jika ingin mandi dan membersihkan diri. Tapi jangan salah. Bukan seperti ponten umum, tapi tempat mandi disitu lebih unik dengan model bathtub. Harga sewanya pun terjangkau.

Saya berkunjung kesana tepat satu bulan sebelum jembatan gantung yang terletak diatas air terjun mini, ambruk. Tidak ada korban jiwa waktu kejadian itu, tapi tetap membuat saya shock. Karena saya sempat berfoto diatas jembatan gantung itu!

Ada kemiripan mitos dengan Kebun Raya Purwodadi. Saya baru tahu saat saya hendak berfoto bersama suami saya dengan background hijaunya hutan dibawah sana. Kami minta tolong pada beberapa orang gadis yang kebetulan juga refreshing. Mereka meledek kami.. "Tinggal ijab sah niih.." teriak mereka sambil tertawa cekikikan. Saya dan suami cuma mesem. Lha wong kami sudah sah...

Akhirnya suami saya bilang, jika ada orang pacaran disitu, hubungannya pasti bakal kandas. Dan kami juga sempat bercanda waktu itu. Jika ada suami istri yang berkunjung, pasti bakal abadi.
Wallahu a'lam.


delta city, 2010

Selasa, 26 Oktober 2010

Lelaki dan Hujan Kemalaman (2)



Laki-laki itu datang sebagai hujan. Bertamu kepadaku ketika senja mulai menepi. Ia ketuk pintu benakku tiga kali antara ragu dan rindu bertemu. Tapi engsel pintu kubiarkan kaku. Mengawali diam benakku ragu. Sebab aku cemas ia masih menggenggam halilintar. Yang hanya menjadikanku terhenyak dan kuyup.
Juga terbakar.

 Lelaki itu datang menjelma badai. Tempias ujung rambutnya melembabkan waktu. Tiba-tiba jam dinding berhenti berdetak begitu binar matanya menyandera mataku. Sampai aku tak sanggup melihat selain sekeping ingatan masa lalu.

Jeepney datang dan lelaki itu mulai melambai dari kejauhan. Perlahan dengan jemari kaku rinai hujan. Yang tak sanggup aku genggam.
Langkahku menjauh. Benakku berpeluh. 
Ketika hujan reda, lelaki  itu pulang sebagai awan.

(Makati - Manila City, Oktober)

Lelaki dan Hujan Kemalaman (1)



Laki-laki itu menjelma hujan sore tadi
Menawariku basah tepian musim yang tak mungkin menumbuhkan sekuntum kenanga di kebun benakku
Lelangit gelap. Seperti sekeping gulana di alisnya yang pekat dengan perdu berpucuk ungu. Tempat serangga menitipkan larva dan beranak pinak menjelma kupu

Aspal masih lembab. Telanjang tanpa segumpil batu serupa onak di sela jari kakimu. Seperti telanjangmu ketika mengantarku pulang ke beranda waktu. Tuhan titip salam, kepadamu, ujarnya diserta petir berulang kali.
Sampai di sebuah tikungan aku menatapnya untuk terakhir kali.
 Lelaki itu menjelma api

(Davao - Cebu City, Oktober)

“Aaangkat tangann..! Menyerah atau modiarr!!”


“Minggir!..Minggir..!  Awas, haik!  Bagerooo..!”  Kenpeitai bermata sipit dengan samurai tersampir di pinggang itu mengibaskan tangannya. Menyuruh seorang ibu muda yang menggandeng putri kecilnya itu menepi.  Saat menghardik itu loh!  Mimiknya serius meyakinkan, mulutnya dimonyong-monyongkan. Seragam hijau lumut bertabur pangkat kemiliteran kekaisaran Jepang dia kedua bahu dan dada, kian membuatnya berwibawa.  

 Sesekali Sang Kenpei menaik turunkan kacamata bulatnya. Mendelik-delik ke arah si bocah.  Eeh, alih-alih takut, si ibu dan putrinya malah cekikian ketika dihardik kenpei.  Lah, kok? Jebulnya, ternyata, Kenpei galak yang berlagak di Senayan dan seputaran Jakarta sejak 16 – 18 Juli  silam itu gadungan alias imitasi.  Samurai, pistol jenis Vickers, juga senapan semi otomatis di punggungnya, adalah tiruan belaka.  Pula, mana ada kenpei Jepang menyandang nama Sutjipto. 

“Ya, saya ikut meramaikan saja, Mbak!,” terang Kenpei Tjipto mengaku. Ketika saya cegat di “pasar klitikan”, sepanjang balkon kawasan kolam renang Gelora Bung Karno yang hari itu berubah jadi pasar onderdil sepeda bekas dari berbagai daerah,  Kenpei Tjipto tengah memilah lampu sepeda bekas.  

Ya, Kenpei  Tjipto hanyalah satu dari lebih duaribu penghela sepeda onthels yang tengah berpesta dala m Kongres Sepeda Indonesia.

Rupa-rupa belaka dandanan para onthelers yang saya temui.  Dari yang berbaju adat daerah, sosok punakawan, koki, hingga (yang cukup banyak) adalah peserta dengan atribut serba djadoel.  Tak heran jika bazaar memorabilia dan barang-barang bekas, paling sering disatroni pengunjung.  “Silakan, Mbak! Ini kacamata asli loh!,”  ujar Munadi, penjual aneka kacamata “tempo doeloe”. I a membanderol dagangannya dengan kisaran harga belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Munadi yang datang dari Subang, Jawa Barat, juga menawarkan radio kuno dan bermacam kaset.

Sementara Mutholib (48), datang dari Madiun beserta 50an rekan penggemar onthel. Diangkut kereta api barang mereka langsir ke Stasiun pasar Senen. Ikut terangkut  perlengkapan masak dan pernak-pernik yang akan dipamerkan saat arak-arakan keliling Jakarta.

Suasana akrab dan guyup terlihat ketika Muntholib dan sohib penggemar onthel dari berbagai daerah bersua. “Ini nikmatnya ngonthel, Mbak! Kita ndak menonjolkan apa yang kita punya, tapi menawarken apa yang kita bisa, hehe”.  Siang itu, dari semula hanya karyawan swasta dengan tiga anak, Muntholib moncer jadi Letnan Kolonel Tentara Repoeblik Indonesia (TRI).  Lengkap dengan seragam warna khaki, peci warna krem dipasang miring, plus selempang kulit dengan sepucuk pistol di pinggangnya yang gendut. 

Aaangkat tangann..! Menyerah atau modiarr!,” ancam Muntholib kepada koleganya yang hari itu jadi tentara KNIL, tentara bentukan militer kolonial Belanda.  Ditodong Letkol Muntholib, tentara Kumpeni yang menyandang senapan laras panjang itu pilih angkat tangan dengan raut muka belagak kecut.  Fragmen guyon itu pun diakhiri dengan tawa yang pecah.   

Asyik sekali bersua dan ngobrol dengan para onthelis dari berbagai kota yang mengepung Ibu Kota.

Saya sendiri memang lebih terbiasa dengan sepeda gunung, dan cukup rutin bersepeda.  Kawasan Bogor dan Bandung adalah area yang paling sering saya jelajahi untuk latihan sebelum menempuh  trek yang lebih jauh.  Saya pernah bersepeda keliling Bali sendirian selama sepekan. Subhanallah, cantik sekali  lansekapnya.  Saya  sempat menginap dua malam di rumah penduduk setempat di Trunyan, kawasan eksotis dengan Danau Batur. Terkejutnya, ketika saya ingin pinjam kamar untuk shalat fardhu, Ni Luh Purniawati, pemilik rumah, menyodorkan selembar sajadah bersih plus menunjukkan arak kiblat.  Saya mengeceknya dengan kompas yang saya bawa, ternyata arah kiblat yang ditunjukkan Luh Purniawati cukup tepat.  Ketika hendak menuju Denpasar, Luh, ibu paruh baya itu emoh ketika saya beri uang.  Malahan, Nyoman Drina, suami Luh Purniawati, memberi saya seruling bambu pendek khas Bali untuk kenang-kenangan. Akhirnya saya paksa Luh Purniawati menerima cincin perak yang saya beli dari Malioboro, Jogja, dua tahun silam sekedar untuk kenangan.

Dalam beberapa sisi, Danau Batur memiliki kesamaan dengan Toba di Sumatera Utara. Hanya, kesenyapan Trunyan jauh dalam, dan agak mistis. Pula, Toba dan sekitarnya habis saya jelajahi tanpa perlu menginap.        

Sesekali saya bersepeda juga dari kantor ke rumah, tepatnya kombinasi antara kereta api Jabotabek dan disambung dengan sepeda.  "Aduh, neng.., ini mah bersepeda pake kereta!" Begitu beberapa penumpang sering iseng nyletuk.  Saya hanya bisa menanggapinya dengan senyum.     

Saya merasakan sekali bagaimana para onthelis sangat jarang “pamer kekayaan”. Mereka lebih condong menawarkan kebersahajaan dan solidaritas. 

Tentu, sepeda onthel berikut komponennya tidaklah murah.  Terlebih yang orisinil dan memang berusia lawas. Di sebuah stand “Gazzelle” misalnya, tampak dipajang sepeda tua seharga Rp 10 juta – Rp 20an juta.  Sedangkan di kalangan penggemar sepeda gunung, sepeda seharga Rp 60 juta – Rp 100 juta lebih, tidaklah mengherankan.   Tentu, sepeda saya tidaklah semahal itu.  Yang penting bisa menemani saya untuk tetap bugar  tanpa banyak keluar ongkos. 
 
Lebih dari semua itu, kalangan onthelis itu telah “memamerkan” sesuatu yang sangat bernilai.   Etalase toko sepeda  manapun tak mungkin memajangnya, karena teramat mahal dan langka : kebersahajaan dan solidaritas.   Entah, di mana saya bisa membeli keduanya untuk saya pamerkan ketika bersepeda.

 

Selasa, 12 Oktober 2010

hening

aku hanya manusia biasa
tempat salah, dosa, dan kekhilafan yang kian bertambah
betapa aku merugi
jika kusia-siakan waktu untuk bertemu denganMU
menyembahMU
dekat denganMU
tak satupun nikmatMU yang akan kuingkari
betapa semua amat berarti
nafasku
detak jantungku
tak pernah lalai KAU memberiku
tapi kenapa aku kadang melupakanMU?
aku hanya manusia biasa
yang terkadang tak tahu
bahwa KAU amat menyayangiku
ALLAH, ampuni aku
dalam sembah sujudku
di hening malamku
meratap memohon ampun
padaMU



delta city, 2010

113

sore itu saat kau datang
ku bertanya padamu, akan pergi kemana kita?
kau jawab, suatu tempat yang aku pasti suka
dikelilingi oleh hijaunya rumput dan segarnya udara taman
dan aku bertanya padamu, dimana itu?
113, jawabmu
adalah suatu tempat yang, tak kusangka akan menjadi tempat yang penuh memori
saat kau melantunkan 'kangen' dengan gitar dipelukan
kusandar dibahumu yang nyaman, ikut berdendang bersamamu
saat terungkap rasa cinta
damba
yang sekian lama terperangkap
hingga mengendap dalam sukma
melebur dengan manis
dalam satu dekapan
terbingkai sentuhan lembut penuh perasaan
ku tak sanggup jauh darimu
melepasmu
tak akan kurelakan hatimu berpaling yang lain
saat itu
momen itu
meski tak akan pernah kembali
tapi akan kuabadikan dalam hati
terpatri di memori
dan kujadikan prasasti




delta city, 2010

Senin, 11 Oktober 2010

kampus A

hingga suatu masa
ku harus kembali ke sana
napak tilas,
atau hanya mengenang kembali memori yang tlah berlalu
kisah cinta kita
yang ditemani oleh sejuknya suasana
ku masih ingat saat kita bersua lewat udara
tak peduli waktu yang memburu
kita berbincang
waktu seakan tak berarti
pekatnya malam pun tak mampu menahanku
karena aku
ingin bersua denganmu



delta city, 2010

tjipto 3126

beribu kilo tlah tertempuh
menyusur jalan lurus
berkelok
membawaku semakin dekat denganmu
diiringi hijau daun diluar sana
angin sejuk yang berhembus sepoi
kau menatapku
mesra
ku balas menyandar dibahumu
hingga ku tak tahu apakah waktu masih berlalu
ku tak peduli
saat itu hanya ada kau
aku
hingga sekarang pun masih
hanya ada kau
terkenang ku saat itu
akankah kau terngiang ucapanku
yang tak pernah terucap?
ku yakin kau tahu
karena perasaanmu
padaku



delta city, 2010

kau

ada satu yang aku tak pernah tahu
apa yang ada dalam benakmu
saat kau menatapku
di temaram senja itu
waktu seakan terhenti
duniaku berhenti berputar, sunyi
hingga bernafas pun ku nyaris tak mampu lagi
aku menenangkan debar jantung yang kian berkejaran
kala jemari kita bertautan
memandang matahari terbenam di peraduan
ditepi pantai
dengan pasir putih lembut yang menyentuh kaki
aku tak ingin yang lain
hanya kau



delta city, 2010

Selasa, 05 Oktober 2010

sepotong kisah masa remaja

Ruang kelas. Saat istirahat kedua...
 
   "Dapat salam tuh," Roman menarik ujung kuncir rambut Bening.
   "Adaw...sialan, Rom. Sakit tau?" Bening merengut. Otomatis tangannya meraih bolpoin dan melempar cowok itu. Tapi dengan gesit Roman menghindar.
   "Eiits...nggak kena. Wee..." Roman turun dari meja dan berlari memutari kursi.
   Spontan Bening juga ikut mengejar, sampai tiba-tiba Roman berhenti mendadak. Bening tak sempat mengerem langkahnya. Gadis itu menabrak Roman. Nafasnya masih terengah.
   Sementara Roman menatap Bening dengan tatapan jail.
   "Sialan..." lagi-lagi Bening mengumpat. Tapi saat tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata Roman yang terkesan misterius, Bening tertegun. Ia bahkan nyaris lupa mau bilang apa. Baru kali ini ia menyadari, Roman mempunyai sepasang mata yang menawan, dinaungi sepasang alis tebal yang bagus. Roman memang tidak seperti model, tapi wajahnya maskulin...
   "Ternyata lumayan juga..."terdengar lamat-lamat suara Roman di telinga Bening. Perlahan ia kembali ke alam nyata.
   Bening merasa wajahnya memanas. Ia malu, ketahuan sedang menatap cowok itu. Tak berkedip pula. Aduuh...
   Alih-alih menyembunyikan rasa malunya, Bening memasang tampang garang. "Apanya yang lumayan? Lagian, kenapa sih, mau-maunya tiap hari jadi tukang pos? Nyampein salam dari Dudi-lah, Arman-lah, Benny-lah, padahal aku juga nggak tahu yang mana orangnya. Sia-sia, tau! Gak bakalan aku bales. Ngerepotin. Bilang aja sama mereka, kalau mereka belum beruntung," Bening berbalik.
   Tapi seketika langkahnya terhenti, karena Roman mencekal tangannya dari belakang, memaksa gadis itu untuk berbalik dan menghadapnya.
   "Kau cantik, Bee..."suara Roman nyaris tak terdengar. Lalu sambungnya "tapi ya, akan kusampaikan pesanmu pada mereka. Oh ya, salam terakhir tadi dari Sang Ketua OSIS lho. Dia naksir kamu. Nggak nyesel?" tanya cowok itu dengan nada menggoda.
   Bening melepaskan tangannya dari pegangan Roman. "Enggak. Makasih buat pujianmu. Aku nggak punya duit receh."
   Roman memicingkan mata. "Kau sudah punya pacar ya, Bee?"
   Bening mengangkat dagu dengan angkuh. "Kalau kau ingin tahu, kenapa nggak kau cari tahu sendiri?"
Lalu berbalik, bergegas meninggalkan Roman yang penasaran.

Kamar Bening. 23:00.
    
   Tembang lawas milik DreamTheater masih setia mengalun dari sudut kamar. Sementara Bening masih asik mengerjakan esai bahasa Inggrisnya, yang harus dikumpulkan besok. Tiba-tiba ponselnya  berbunyi. Dilihatnya sekilas sang penelpon dilayar monitor. Roman?
   "Rom? Ngapain malem-malem gini nelpon?"
   "Aku kangen."
   "Emang aku pikirin? Pacar bukan, sodara bukan, main bilang kangen aja. Males."
   "Mo minta tolong sebentar..."
   "Apaan?"  
   "Ke jendela sebentar, Bee."
   "Mo ngapain. Ogah."
   "Please..."
   "Oke...oke, ngerepotin aja deh," Bening bangkit dari kursinya dan melangkah menuju jendela. Dan alangkah kagetnya saat ia melihat sosok Roman dibawah, diluar pagar. Dari jendela kamarnya yang dilantai dua, sosok atletis Roman yang mengenakan  jeans dan kaus kasual hitam dengan model turtle neck, terlihat amat memesona. Diam-diam Bening mengumpat pelan. Kenapa cowok itu semakin menarik dimatanya?
   "Oke, aku bisa lihat kau, Bee. Makasih. aku pulang sekarang."
   "Lho...apa maksudnya nih?"
   "Sudah kubilang, aku kangen. Satu lagi, aku rasa, aku jatuh cinta sama kamu, Bee. Kutunggu jawabanmu satu minggu lagi ya? Kalau kau acc proposalku jadi pacarmu, temui aku di tempat favoritku. Kamu pasti tahu. Aku pulang.." Roman mematikan sambungan telepon.
   Bening merasa lututnya lemas mendadak. Sempoyongan ia menuju kursi bundar disudut kamar, dan memikirkan perkataan Roman barusan.
   Ia kenal Roman sejak kelas X. Saat itu ia berpendapat Roman adalah cowok yang bandel, susah diatur, suka seenaknya. Tapi semakin ia mengenal lebih dalam, Roman bukan sosok seperti itu. Diluar ia memang terkesan berandal, tapi ia seseorang yang care, penuh perhatian, dan peduli dengan teman. Roman sering menggodanya dengan menyampaikan salam-salam dari entah siapa, ia juga tak peduli. Sadarlah Bening sekarang, bahwa ia sedang menunggu Roman, karena tanpa ia sadari, ia telah menemukan sesuatu yang berbeda dalam sosoknya, yang sanggup menghantuinya belakangan ini.
   Dan ya, ia tahu tempat favorit Roman.

Lereng Penanggungan.16:00.

   Kabut mulai turun. Puncak gunung diselimuti awan yang berarak. Cuaca semakin dingin. Bening mengatur nafasnya. Sudah lama ia tidak hiking. Dan sekarang ia sedang meniti jalan, mengikuti alur yang ada, yang ditata untuk para pendaki. Sebentar lagi ia sampai di Pos I. Dari situ ia akan berjalan ke arah timur, sampai ia menemukan padang Edelweiss.
   Benar dugaannya. Sosok jangkung dengan rambut yang mulai memanjang itu sedang duduk memunggunginya. Disampingnya terdapat dua cangkir kopi yang masih mengepul, sementara alunan melodi gitarnya syahdu menghiasi sore itu.
   Nyaris tanpa suara, Bening duduk disamping Roman. Spontan jemarinya yang sedang memetik gitar terhenti. Cowok itu menatap Bening dengan lembut.
   "Kukira kau tak akan datang..."
   "Yang artinya, aku menolak cintamu. Tapi ternyata aku disini, Rom..."
   "Kau seperti mimpi, Bee. Kadang aku nyaris tak berani mengharapkanmu jadi pacarku. Terima kasih, Sweetheart..."Roman meraih jemari Bening dan menggenggamnya.
   Paras Bening memerah.Roman tertawa. "Kau memang cantik..."
   "Oh ya, ngomong-ngomong...kau sepertinya tahu aku akan datang. Kau sudah mempersiapkan dua cangkir kopi ya? Buat aku?"
   Roman nyengir. "Ah, enggak juga.Aku biasa minum kopi lima cangkir, malah..."
   Bening ikut nyengir. "Oke deh, kalau gitu aku pamit pulang dulu ah..."
   Roman merangkul bahu mungil Bening. "Enak aja. Kau pikir kau akan kubiarkan pulang? Kita nikmati dulu sore ini, ngeliat kabut yang turun, senja yang datang temaram, malam yang penuh kerlip bintang...aku main gitar dan kau yang nyanyi...lalu kita pulang. Setuju?"
   Bening menatap Roman dengan berbinar. "Bangeeet!"



delta city, 2010


 

kenapa

sejak jumpa pertama itu denganmu
kurasa memang ada sesuatu yang baru
asing...
tapi menyenangkan
aku juga tak tahu apa itu
yang kutahu kau memukau
sosokmu...
langkahmu...
setiap gerakanmu...
memesonaku...
tapi kau tak pernah tahu
atau kau tahu, tapi tak mau tahu?
kenapa kau tak ijinkan dunia tahu?
kala kita bersua
akankah kau ingkari gejolak rasa yang ada
jujurlah...
ku tak akan marah
kenapa kau tak ijinkan dunia tahu, kalau kita memang saling mencinta
kenapa?


delta city, 2010

bunda

aku bunda mu
setidaknya, kau panggil aku begitu
kau mampu hantui setiap langkahku
bayangmu
tatap matamu
kau hadir dibosannya hari hariku
semangatku
karna mu
pesonamu mampu mengalihkan duniaku
sekelebat sosokmu
amat berarti bagiku
aku bunda mu
yang mencintai kamu


delta city, 2010

Rabu, 29 September 2010

sliramu

senajan mung sak tleraman
nanging sanggup nggawe leganing ati
kang wis kepanah tresna
kangenku ngglayut nang endahing netramu
esemmu tansah melu
aja muring marang aku
amarga aku tresna


delta city, 2010

a night to remember

a night to remember
when we held our hands each other
when i looked your charming eyes
forget the time
another person
reasons
for a moment
'cause noone would understood
the feelin' we've got
the memories
the heartbeat
only both of us
at the time


delta city, 2010

Sabtu, 25 September 2010

Ketika Hujan Reda



: Anis N Laily

Ketika hujan reda,
Lipatan perahu kertas telah kuhanyutkan, diam diam
Mengapung di tepian alir sungaimu
Berisi selarik aksara
Yang mungkin hendak kita eja
Tentang gelegak waktu yang telah lalu
Tentang jalinan peristiwa yang hendak kita beri warna
Dan sekeping harap yang akan kita jaga

Ketika hujan reda,
Kutawarkan kepadamu
Tamasya padang ilalang tanpa tepi
Tempat bisik seribu kupu-kupu
Menjelma dzikir lirih sepenuh kalbu

Ketika hujan reda,
Kutawarkan kepadamu
Untuk menganyam nada pelangi di hampar benak
Takkan mudah memang,
Selaksa menampung uap embun di cekungan daun
Yaitu tempat kau dan aku
Ranum diperam kepompong waktu

(La Hanum)
Gondangdia, Sept 2010