“Minggir!..Minggir..! Awas, haik! Bagerooo..!” Kenpeitai bermata sipit dengan samurai tersampir di pinggang itu mengibaskan tangannya. Menyuruh seorang ibu muda yang menggandeng putri kecilnya itu menepi. Saat menghardik itu loh! Mimiknya serius meyakinkan, mulutnya dimonyong-monyongkan. Seragam hijau lumut bertabur pangkat kemiliteran kekaisaran Jepang dia kedua bahu dan dada, kian membuatnya berwibawa.
Sesekali Sang Kenpei menaik turunkan kacamata bulatnya. Mendelik-delik ke arah si bocah. Eeh, alih-alih takut, si ibu dan putrinya malah cekikian ketika dihardik kenpei. Lah, kok? Jebulnya, ternyata, Kenpei galak yang berlagak di Senayan dan seputaran Jakarta sejak 16 – 18 Juli silam itu gadungan alias imitasi. Samurai, pistol jenis Vickers, juga senapan semi otomatis di punggungnya, adalah tiruan belaka. Pula, mana ada kenpei Jepang menyandang nama Sutjipto.
“Ya, saya ikut meramaikan saja, Mbak!,” terang Kenpei Tjipto mengaku. Ketika saya cegat di “pasar klitikan”, sepanjang balkon kawasan kolam renang Gelora Bung Karno yang hari itu berubah jadi pasar onderdil sepeda bekas dari berbagai daerah, Kenpei Tjipto tengah memilah lampu sepeda bekas.
Ya, Kenpei Tjipto hanyalah satu dari lebih duaribu penghela sepeda onthels yang tengah berpesta dala m Kongres Sepeda Indonesia.
Rupa-rupa belaka dandanan para onthelers yang saya temui. Dari yang berbaju adat daerah, sosok punakawan, koki, hingga (yang cukup banyak) adalah peserta dengan atribut serba djadoel. Tak heran jika bazaar memorabilia dan barang-barang bekas, paling sering disatroni pengunjung. “Silakan, Mbak! Ini kacamata asli loh!,” ujar Munadi, penjual aneka kacamata “tempo doeloe”. I a membanderol dagangannya dengan kisaran harga belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Munadi yang datang dari Subang, Jawa Barat, juga menawarkan radio kuno dan bermacam kaset.
Sementara Mutholib (48), datang dari Madiun beserta 50an rekan penggemar onthel. Diangkut kereta api barang mereka langsir ke Stasiun pasar Senen. Ikut terangkut perlengkapan masak dan pernak-pernik yang akan dipamerkan saat arak-arakan keliling Jakarta.
Suasana akrab dan guyup terlihat ketika Muntholib dan sohib penggemar onthel dari berbagai daerah bersua. “Ini nikmatnya ngonthel, Mbak! Kita ndak menonjolkan apa yang kita punya, tapi menawarken apa yang kita bisa, hehe”. Siang itu, dari semula hanya karyawan swasta dengan tiga anak, Muntholib moncer jadi Letnan Kolonel Tentara Repoeblik Indonesia (TRI). Lengkap dengan seragam warna khaki, peci warna krem dipasang miring, plus selempang kulit dengan sepucuk pistol di pinggangnya yang gendut.
“Aaangkat tangann..! Menyerah atau modiarr!,” ancam Muntholib kepada koleganya yang hari itu jadi tentara KNIL, tentara bentukan militer kolonial Belanda. Ditodong Letkol Muntholib, tentara Kumpeni yang menyandang senapan laras panjang itu pilih angkat tangan dengan raut muka belagak kecut. Fragmen guyon itu pun diakhiri dengan tawa yang pecah.
Asyik sekali bersua dan ngobrol dengan para onthelis dari berbagai kota yang mengepung Ibu Kota.
Saya sendiri memang lebih terbiasa dengan sepeda gunung, dan cukup rutin bersepeda. Kawasan Bogor dan Bandung adalah area yang paling sering saya jelajahi untuk latihan sebelum menempuh trek yang lebih jauh. Saya pernah bersepeda keliling Bali sendirian selama sepekan. Subhanallah, cantik sekali lansekapnya. Saya sempat menginap dua malam di rumah penduduk setempat di Trunyan, kawasan eksotis dengan Danau Batur. Terkejutnya, ketika saya ingin pinjam kamar untuk shalat fardhu, Ni Luh Purniawati, pemilik rumah, menyodorkan selembar sajadah bersih plus menunjukkan arak kiblat. Saya mengeceknya dengan kompas yang saya bawa, ternyata arah kiblat yang ditunjukkan Luh Purniawati cukup tepat. Ketika hendak menuju Denpasar, Luh, ibu paruh baya itu emoh ketika saya beri uang. Malahan, Nyoman Drina, suami Luh Purniawati, memberi saya seruling bambu pendek khas Bali untuk kenang-kenangan. Akhirnya saya paksa Luh Purniawati menerima cincin perak yang saya beli dari Malioboro, Jogja, dua tahun silam sekedar untuk kenangan.
Dalam beberapa sisi, Danau Batur memiliki kesamaan dengan Toba di Sumatera Utara. Hanya, kesenyapan Trunyan jauh dalam, dan agak mistis. Pula, Toba dan sekitarnya habis saya jelajahi tanpa perlu menginap.
Sesekali saya bersepeda juga dari kantor ke rumah, tepatnya kombinasi antara kereta api Jabotabek dan disambung dengan sepeda. "Aduh, neng.., ini mah bersepeda pake kereta!" Begitu beberapa penumpang sering iseng nyletuk. Saya hanya bisa menanggapinya dengan senyum.
Saya merasakan sekali bagaimana para onthelis sangat jarang “pamer kekayaan”. Mereka lebih condong menawarkan kebersahajaan dan solidaritas.
Tentu, sepeda onthel berikut komponennya tidaklah murah. Terlebih yang orisinil dan memang berusia lawas. Di sebuah stand “Gazzelle” misalnya, tampak dipajang sepeda tua seharga Rp 10 juta – Rp 20an juta. Sedangkan di kalangan penggemar sepeda gunung, sepeda seharga Rp 60 juta – Rp 100 juta lebih, tidaklah mengherankan. Tentu, sepeda saya tidaklah semahal itu. Yang penting bisa menemani saya untuk tetap bugar tanpa banyak keluar ongkos.
Lebih dari semua itu, kalangan onthelis itu telah “memamerkan” sesuatu yang sangat bernilai. Etalase toko sepeda manapun tak mungkin memajangnya, karena teramat mahal dan langka : kebersahajaan dan solidaritas. Entah, di mana saya bisa membeli keduanya untuk saya pamerkan ketika bersepeda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar