Selasa, 26 Oktober 2010

Lelaki dan Hujan Kemalaman (2)



Laki-laki itu datang sebagai hujan. Bertamu kepadaku ketika senja mulai menepi. Ia ketuk pintu benakku tiga kali antara ragu dan rindu bertemu. Tapi engsel pintu kubiarkan kaku. Mengawali diam benakku ragu. Sebab aku cemas ia masih menggenggam halilintar. Yang hanya menjadikanku terhenyak dan kuyup.
Juga terbakar.

 Lelaki itu datang menjelma badai. Tempias ujung rambutnya melembabkan waktu. Tiba-tiba jam dinding berhenti berdetak begitu binar matanya menyandera mataku. Sampai aku tak sanggup melihat selain sekeping ingatan masa lalu.

Jeepney datang dan lelaki itu mulai melambai dari kejauhan. Perlahan dengan jemari kaku rinai hujan. Yang tak sanggup aku genggam.
Langkahku menjauh. Benakku berpeluh. 
Ketika hujan reda, lelaki  itu pulang sebagai awan.

(Makati - Manila City, Oktober)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar