Ruang kelas. Saat istirahat kedua...
"Dapat salam tuh," Roman menarik ujung kuncir rambut Bening.
"Adaw...sialan, Rom. Sakit tau?" Bening merengut. Otomatis tangannya meraih bolpoin dan melempar cowok itu. Tapi dengan gesit Roman menghindar.
"Eiits...nggak kena. Wee..." Roman turun dari meja dan berlari memutari kursi.
Spontan Bening juga ikut mengejar, sampai tiba-tiba Roman berhenti mendadak. Bening tak sempat mengerem langkahnya. Gadis itu menabrak Roman. Nafasnya masih terengah.
Sementara Roman menatap Bening dengan tatapan jail.
"Sialan..." lagi-lagi Bening mengumpat. Tapi saat tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata Roman yang terkesan misterius, Bening tertegun. Ia bahkan nyaris lupa mau bilang apa. Baru kali ini ia menyadari, Roman mempunyai sepasang mata yang menawan, dinaungi sepasang alis tebal yang bagus. Roman memang tidak seperti model, tapi wajahnya maskulin...
"Ternyata lumayan juga..."terdengar lamat-lamat suara Roman di telinga Bening. Perlahan ia kembali ke alam nyata.
Bening merasa wajahnya memanas. Ia malu, ketahuan sedang menatap cowok itu. Tak berkedip pula. Aduuh...
Alih-alih menyembunyikan rasa malunya, Bening memasang tampang garang. "Apanya yang lumayan? Lagian, kenapa sih, mau-maunya tiap hari jadi tukang pos? Nyampein salam dari Dudi-lah, Arman-lah, Benny-lah, padahal aku juga nggak tahu yang mana orangnya. Sia-sia, tau! Gak bakalan aku bales. Ngerepotin. Bilang aja sama mereka, kalau mereka belum beruntung," Bening berbalik.
Tapi seketika langkahnya terhenti, karena Roman mencekal tangannya dari belakang, memaksa gadis itu untuk berbalik dan menghadapnya.
"Kau cantik, Bee..."suara Roman nyaris tak terdengar. Lalu sambungnya "tapi ya, akan kusampaikan pesanmu pada mereka. Oh ya, salam terakhir tadi dari Sang Ketua OSIS lho. Dia naksir kamu. Nggak nyesel?" tanya cowok itu dengan nada menggoda.
Bening melepaskan tangannya dari pegangan Roman. "Enggak. Makasih buat pujianmu. Aku nggak punya duit receh."
Roman memicingkan mata. "Kau sudah punya pacar ya, Bee?"
Bening mengangkat dagu dengan angkuh. "Kalau kau ingin tahu, kenapa nggak kau cari tahu sendiri?"
Lalu berbalik, bergegas meninggalkan Roman yang penasaran.
Kamar Bening. 23:00.
Tembang lawas milik DreamTheater masih setia mengalun dari sudut kamar. Sementara Bening masih asik mengerjakan esai bahasa Inggrisnya, yang harus dikumpulkan besok. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dilihatnya sekilas sang penelpon dilayar monitor. Roman?
"Rom? Ngapain malem-malem gini nelpon?"
"Aku kangen."
"Emang aku pikirin? Pacar bukan, sodara bukan, main bilang kangen aja. Males."
"Mo minta tolong sebentar..."
"Apaan?"
"Ke jendela sebentar, Bee."
"Mo ngapain. Ogah."
"Please..."
"Oke...oke, ngerepotin aja deh," Bening bangkit dari kursinya dan melangkah menuju jendela. Dan alangkah kagetnya saat ia melihat sosok Roman dibawah, diluar pagar. Dari jendela kamarnya yang dilantai dua, sosok atletis Roman yang mengenakan jeans dan kaus kasual hitam dengan model turtle neck, terlihat amat memesona. Diam-diam Bening mengumpat pelan. Kenapa cowok itu semakin menarik dimatanya?
"Oke, aku bisa lihat kau, Bee. Makasih. aku pulang sekarang."
"Lho...apa maksudnya nih?"
"Sudah kubilang, aku kangen. Satu lagi, aku rasa, aku jatuh cinta sama kamu, Bee. Kutunggu jawabanmu satu minggu lagi ya? Kalau kau acc proposalku jadi pacarmu, temui aku di tempat favoritku. Kamu pasti tahu. Aku pulang.." Roman mematikan sambungan telepon.
Bening merasa lututnya lemas mendadak. Sempoyongan ia menuju kursi bundar disudut kamar, dan memikirkan perkataan Roman barusan.
Ia kenal Roman sejak kelas X. Saat itu ia berpendapat Roman adalah cowok yang bandel, susah diatur, suka seenaknya. Tapi semakin ia mengenal lebih dalam, Roman bukan sosok seperti itu. Diluar ia memang terkesan berandal, tapi ia seseorang yang care, penuh perhatian, dan peduli dengan teman. Roman sering menggodanya dengan menyampaikan salam-salam dari entah siapa, ia juga tak peduli. Sadarlah Bening sekarang, bahwa ia sedang menunggu Roman, karena tanpa ia sadari, ia telah menemukan sesuatu yang berbeda dalam sosoknya, yang sanggup menghantuinya belakangan ini.
Dan ya, ia tahu tempat favorit Roman.
Lereng Penanggungan.16:00.
Kabut mulai turun. Puncak gunung diselimuti awan yang berarak. Cuaca semakin dingin. Bening mengatur nafasnya. Sudah lama ia tidak hiking. Dan sekarang ia sedang meniti jalan, mengikuti alur yang ada, yang ditata untuk para pendaki. Sebentar lagi ia sampai di Pos I. Dari situ ia akan berjalan ke arah timur, sampai ia menemukan padang Edelweiss.
Benar dugaannya. Sosok jangkung dengan rambut yang mulai memanjang itu sedang duduk memunggunginya. Disampingnya terdapat dua cangkir kopi yang masih mengepul, sementara alunan melodi gitarnya syahdu menghiasi sore itu.
Nyaris tanpa suara, Bening duduk disamping Roman. Spontan jemarinya yang sedang memetik gitar terhenti. Cowok itu menatap Bening dengan lembut.
"Kukira kau tak akan datang..."
"Yang artinya, aku menolak cintamu. Tapi ternyata aku disini, Rom..."
"Kau seperti mimpi, Bee. Kadang aku nyaris tak berani mengharapkanmu jadi pacarku. Terima kasih, Sweetheart..."Roman meraih jemari Bening dan menggenggamnya.
Paras Bening memerah.Roman tertawa. "Kau memang cantik..."
"Oh ya, ngomong-ngomong...kau sepertinya tahu aku akan datang. Kau sudah mempersiapkan dua cangkir kopi ya? Buat aku?"
Roman nyengir. "Ah, enggak juga.Aku biasa minum kopi lima cangkir, malah..."
Bening ikut nyengir. "Oke deh, kalau gitu aku pamit pulang dulu ah..."
Roman merangkul bahu mungil Bening. "Enak aja. Kau pikir kau akan kubiarkan pulang? Kita nikmati dulu sore ini, ngeliat kabut yang turun, senja yang datang temaram, malam yang penuh kerlip bintang...aku main gitar dan kau yang nyanyi...lalu kita pulang. Setuju?"
Bening menatap Roman dengan berbinar. "Bangeeet!"
delta city, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar