Selasa, 26 Oktober 2010

Lelaki dan Hujan Kemalaman (1)



Laki-laki itu menjelma hujan sore tadi
Menawariku basah tepian musim yang tak mungkin menumbuhkan sekuntum kenanga di kebun benakku
Lelangit gelap. Seperti sekeping gulana di alisnya yang pekat dengan perdu berpucuk ungu. Tempat serangga menitipkan larva dan beranak pinak menjelma kupu

Aspal masih lembab. Telanjang tanpa segumpil batu serupa onak di sela jari kakimu. Seperti telanjangmu ketika mengantarku pulang ke beranda waktu. Tuhan titip salam, kepadamu, ujarnya diserta petir berulang kali.
Sampai di sebuah tikungan aku menatapnya untuk terakhir kali.
 Lelaki itu menjelma api

(Davao - Cebu City, Oktober)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar