Selasa, 16 November 2010

"Aku Cuma Seorang Phung"

: Nguyen Phung They Ley

Aku cuma seorang "phung"
lenguh mu pada sebuah senja, lenguh yang bukan keluh
tak dengan nada seolah langit hampir runtuh
dan kau menepati janjimu menemuiku di kafe itu
menyambut dengan secangkir teh hijau, dan helai mie seputih pias wajahmu

Aku cuma seorang "phung"
yang melanglang dari distrik ke distrik, kampung ke kampung
menjajakan sisa tubuh yang cuma separuh
sampai tandas semua peluh

Tapi apa arti seorang perempuan Viet tanpa "phung"
tanah tempat kembali
kampung tempat meriung
dan bunda yang tak lelah menawarkan pelukan
begitu benak rusuh
resah
(dan benakku melanglang pada rumah-rumah beratap jerami itu, dan lapangan rumput kering dengan selusin lubang sisa bom yang tak pernah ditimbun, dan serpih logam karatan yang menancapi akar-akar pohon tamarin)

Aku cuma seorang "phung"
ujarnya sembari mengoles gincu merah jambu
pada bibir setipis katun yang membalut erat pinggang kurusnya
meriak seperti buih tepi sungai mekhong
begitu kata-katanya meluncur
setergesa racau orang mabuk
dikejar uap napalm yang membakar rongga mulutnya


aku tak sanggup menandaskan teguk teh terakhir
di cangkir marun yang mulai pudar
ketika ia mulai bicara bunda kinasihnya
yang memberinya nama tepat di semburan napalm pertama
yang menghanguskan "phung" nya
ketika hari beranjak senja
"Paman Ngoc menyambarku keluar, tak sanggup menahan bundaku terbakar"
Api tak pernah mengetuk pintu dan mengajak bicara
api menawariku duka

senja turun,
dan kubiarkan Phung pergi melintasi sungai itu
jembatan kayu berderak
dan sampai ia hilang di tikungan
wajah sungai tak menghadirkan riak...

mungkin aku pun seorang "phung"

(Ho Chi Minh City, Oct 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar